Selasa, 23 Agustus 2011

Berpuasa? hormatilah orang lain terlebih dahulu...



Kegiatan sweeping atas rumah makan yang dilakukan oleh ormas (organisasi masyarakat) pada bulan Ramadhan dengan dalih "untuk menghormati dan menjaga kenyamanan ibadah puasa bulan Ramadhan" begitu terasa meresahkan masyarakat, apalagi beberapa diantaranya melakukan tindak kekerasan dan pengerusakan di dalam menjalankan aksinya.


"Pemerintah harus bisa menjamin adanya kebebasan dalam memeluk dan menjalankan ibadah agama atau kepercayaannya masing-masing".
pernyataan ini memang telah menjadi kewajiban bagi pemerintah, agar tiap masyarakat dapat secara bebas memilih dan menjalankan kegiatan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang diyakininya masing-masing. Dan individu atau masyarakat memang tidak boleh melarang, menghina atau melakukan tindakan yang dapat menganggu kenyamanan orang lain dalam menjalankan kegiatan beribadahnya.

Tapi hal ini juga harus diimbangi dengan pengakuan atas pernyataan...
"Indonesia adalah negara hukum, bukan negara agama. Indonesia bukan hanya milik golongan tertentu, tetapi milik bersama dari semua golongan yang ada." 
Pernyataan yang kedua ini kemudian berdampak pada harus adanya saling menjaga antar komponen masyarakat dengan mengusung konsep kesetaraan. Tidak boleh ada pengakuan mayoritas (superior) ataupun minoritas (inferior) dalam hal pelaksanaan hak dan kewajiban sesama anggota masyarakat.

Kedua pernyataan ini saya anggap tidak saling bertolak belakang, tetapi saling melengkapi.
Dengan menyimpulkan bahwa setiap individu memiliki HAK untuk memeluk agama dan kepercayaan serta beribadah sesuai dengan keyakinan yang ia pilih... serta ber-KEWAJIBAN berkontribusi dalam menjaga kenyamanan dan ketertiban pelaksanaan IBADAH SELURUH komponen masyarakat dengan mengutamakan prinsip pengakuan kesetaraan dalam keberagaman...
Sementara pemerintah harus MENJAGA KESEIMBANGAN antara pemenuhan hak dan kewajiban serta segala resiko yang mengiringi pelaksanaannya...





Kembali pada kasus sweeping atau razia rumah makan pada bulan Ramadhan oleh kelompok ormas tertentu yang tak jarang diikuti oleh adanya aksi kekerasan atau pengerusakan atas rumah makan yang di-sweeping, menurut saya itu adalah tindakan yang tidak perlu...
alasan mengapa saya katakan tidak perlu, antara lain:

1. Tidak semua masyarakat Indonesia menjalankan ibadah puasa Ramadhan
2. Hormati orang lain terlebih dahulu, baru kemudian kita akan dihormati orang lain
3. Ibadah puasa adalah perang besar, yaitu peperangan melawan hawa nafsu diri pribadi
4. Ibadah puasa Ramadhan adalah ibadah vertikal antara seorang hamba kepada Tuhan
5. Tidak semua masalah harus dilakukan dengan aksi kekerasan ataupun main hakim sendiri

Perlu disadari bahwa komponen masyarakat Indonesia adalah komunitas yang heterogen, dimana didalamnya juga terdapat komponen masyarakat yang beragama non Islam sehingga mereka tidak menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Tentu saja mereka yang non Islam ini tidak boleh dipaksakan untuk ikut melakukan ibadah puasa Ramadhan oleh siapa pun. 
Selain itu, perlu dipahami juga bahwa mereka yang tidak puasa Ramadhan adalah manusia biasa yang pastinya memerlukan kebutuhan primer dalam hidup, yaitu makanan dan minuman. Selama bulan Ramadhan sesungguhnya telah terjadi pembatasan atas pemenuhan kebutuhan primer (pangan) anggota masyarakat non Islam di beberapa kawasan tempat di Indonesia sebagai akibat tutupnya berbagai rumah makan yang tersedia sepanjang waktu berpuasa.

Pepatah tidak dibuat dengan sia-sia....
Bila ingin dihormati orang lain, maka kita harus menghormati orang lain terlebih dahulu. Pepatah ini berlaku juga dalam hubungan masyarakat yang beragam dalam menghadapi moment ibadah puasa Ramadhan.

Bagi masyarakat non Islam serta yang tidak menjalankan ibadah puasa Ramadhan memiliki kewajiban untuk turut berkontribusi menjaga kenyamanan dan ketertiban pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan.
Sedangkan bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan juga harus mengakui adanya hak komponen masyarakat yang tidak menjalankan ibadah puasa Ramadhan atas pemenuhan kebutuhan primer berupa makanan dan minuman.

Dengan saling menjaga dan mengakui adanya kesetaraan antara yang sedang berpuasa serta yang tidak berpuasa, seharusnya tidak terjadi clash atau gesekan dari kedua pihak yang saling berkepentingan.

Lagipula, puasa itu adalah perang yang paling besar. Yaitu perang melawan hawa nafsu pribadi.
Kadar ibadah puasa tidak dinilai hanya dari tidak makan dan tidak minum, tapi juga dari bagaimana menyikapi godaan atas hawa nafsu terutama amarah.


Apakah ibadah puasa hanya sebatas tidak makan minum?
Apakah ibadah puasa seseorang akan terganggu ataupun menjadi batal (tidak sah) jika melihat seseorang lain makan dan minum di tempat umum?


Jawabannya pasti TIDAK, karena ibadah puasa bukan berarti ibadah untuk memaksa orang lain menjadi baik sesuai yang diinginkan, tapi ibadah yang memaksa pribadi yang menjalankan agar menjadi lebih baik sehingga kebaikan itu juga dapat memberikan kebaikan bagi orang lain..
Sehingga, ibadah puasa Ramadhan adalah ibadah vertikal antara Allah dengan hamba-Nya. Hal ini berarti, tiap manusia tidak bisa memaksakan apakah orang lain harus puasa atau tidak, karena baik buruknya amalan seseorang tidak ditentukan oleh orang lain, melainkan dari perilaku dan tindakannya masing-masing.

Selain beberapa hal di atas, sebaiknya energi yang ada selama menjalankan puasa Ramadhan dilakukan dengan menjalankan kegiatan peribadatan yang mampu menambah amalan baik. 
ataupun jika ada energi berlebih alangkah lebih baik lagi jika dimanfaatkan untuk hal yang berguna bagi orang banyak seperti melakukan aksi kerja bakti, gotong royong menjaga kebersihan, dan sebagainya.

Karena Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam, dimana bila masyarakat Islam mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya, tentu saja lingkungan atau masyarakat akan memberikan apresiasi positif bagi orang Islam. Jika hubungan yang sinergis dan harmonis ini berlanjut, tentu saja secara sadar ataupun tidak masyarakat non Islam akan dapat lebih menghargai dan menghormati orang Islam dimanapun dan kapanpun, seperti dengan tidak menunjukkan makan dan minum di tempat umum pada saat bulan Ramadhan (seperti juga yang diharapkan ormas Islam tertentu).

Tetapi apabila ormas Islam memaksakan keinginan dengan jalan kekerasan dan main hakim sendiri, hal ini selain dapat mencoreng nama kelompok maupun agama dan tujuan yang diusungnya. Selain beresiko mendapat apresiasi negatif dari masyarakat non Islam juga bahkan dari sesama masyarakat Islam lainnya.

Selalu ada jalan dalam menyikapi suatu permasalahan. Dan bukankah kedamaian itu lebih indah daripada kekerasan ataupun peperangan?
Islam adalah pembawa kedamaian dan bukanlah penyebar kekerasan ataupun rasa ketakutan (teror).


Jadikan bulan Ramadhan sebagai suatu moment kemenangan, kemerdekaan!
Merdeka dan menang atas hawa nafsu yang ada dalam diri pribadi!
Jangan sampai puasa bulan Ramadhan hanya sebagai topeng atas perwujudan hawa nafsu amarah!

Sudah saatnya kita memandang diri sebagai suatu kesatuan bangsa dan negara.
Kesetaraan dalam keberagaman dalam satu wadah, Indonesia!
Jangan mau mudah terpecah belah, apalagi menjadi pemicu yang memprovokasi adu domba.
Setiap agama pasti menganjurkan kebaikan, membuat seseorang menjadi lebih baik, kemudian kebaikannya akan menyebar dengan sendirinya kepada lingkungan dan masyarakat tempat ia berada.

Lalu..... Bagaimana menurut anda???

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar